Untukmu yang Kelak Menjadi Jodohku

Aku tak tahu ingin menulis apa di pesan pembuka ini untuk menyampaikan apa yang aku rasakan belakangan ini, seringkali aku dibuat resah serta dilema yang datang hampir setiap malam dalam kesunyian. Aku pun tak tahu apakah kamu membaca tulisan ini atau tidak, sebab aku tak pernah tahu apakah kamu (jodohku) merupakan orang terdekatku atau bukan. Tak sedikit orang yang menemukan jodohnya berasal dari lingkungan kerja atau lingkungan teman.  Oh iya, mengenai keresahan serta rasa dilema yang aku alami belakangan ini, saat ini aku berada pada situasi dimana aku sedang merasa pesimis untuk membuka hati terhadap orang lain serta dilema apakah aku benar-benar yakin untuk berhenti jatuh hati terhadap orang lain? Entahlah, sebab bukan sekali-dua kali aku merasakan sakit hati dan kecewa dalam urusan ini. Aku merasa sangat rapuh tak berdaya setiap kali pupus ketika sedang menjalani suatu hubungan atau saat sedang berusaha membangun sebuah hubungan dengan seseorang.

 

Untukmu yang kelak menjadi jodohku, apakah kamu pun merasakan hal yang sama denganku? Bagaimana dengan kisah cintamu? Apakah kamu pun pernah merasa lelah dengan semua ini dan enggan untuk membuka hati? Atau apakah kamu akan terus berjuang untuk menemukanku sebagaimana aku pun berjuang untuk bisa menemukanmu? Pernah aku berpikir andaikan aku bisa bertanya langsung pada Tuhan tentang seperti apa wajahmu, kepribadianmu, kapan aku dan kamu bertemu, dan dimana aku bisa mencari dirimu agar aku cepat menemukanmu. Namun aku sadar, aku tak bisa berdiskusi dengan Tuhan selayaknya aku berdiskusi dengan manusia. Pada akhirnya aku meyakini bahwa Tuhan punya rencana sendiri untuk mempertemukan kita di waktu dan tempat yang tepat untuk kita, walau entah kapan saat itu tiba.

 

Saat ini, aku benar-benar sedang merasa sedih dan tidak tahu harus berkeluh kesah kepada siapa selain kepada Tuhan. Banyak hal yang aku alami dalam kehidupanku, aku ingin menceritakan semuanya tentang apa yang aku temukan, tentang apa yang aku pikirkan, tentang apa yang aku inginkan, tentang apa yang aku rasakan, dan semua hal yang aku alami. Aku ingin kamu benar-benar mengetahuinya, bercerita sepanjang hari duduk berdua sambil meminum secangkir teh atau kopi sekedar bertukar cerita masing-masing. Setelahnya memeluk dan mencium keningmu untuk menyampaikan rasa bahwa aku benar-benar sayang padamu, bahwa aku benar-benar beruntung memilikimu, bahwa aku benar-benar nyaman serta bahagia berada di sampingmu. Aku lelah jika aku harus bercerita berulang-ulang pada orang selain kamu. Sebab jika bukan pada orang yang bukan jodohku, aku harus mengulangi lagi fase dari awal, fase berkenalan hingga berpacaran yang tentu saja menyita banyak waktu, tenaga, pikiran, perasaan, hingga pengorbanan. Sialnya, aku tak punya pilihan untuk tidak melakukan hal itu berulang-ulang. Alasannya sederhana, aku belum menemukan dirimu. Maka untuk kali ini, aku menuangkan semuanya dalam tulisan ini. Agar aku tidak bercerita kepada orang yang bukan kamu sebagai jodohku.

 

Kadang juga aku merasa ingin menangis untuk meluapkan sesak di hati, namun sayangnya aku tak bisa menangis sekalipun tanganku sudah gemetar dan badanku sudah lemas setiap kali aku merasa sakit hati atau kecewa. Terkesan berlebihan bagi orang lain yang membaca ini, tak apalah itu haknya dalam menilai, aku hanya berkata jujur saat menulis ini semua. Dalam khayalku, aku ingin menangis sambil memelukmu, bercerita semua kesedihanku  sebelum aku menemukanmu hingga aku tertidur dengan sendirinya dari rasa nyaman yang kamu berikan di setiap belaian tanganmu pada rambutku. Aku tak merasa malu jika aku dicap cengeng atau lemah, aku sadar bahwa sekalipun aku seorang pria, tetap saja bisa menangis untuk meluapkan sesak di hati yang selama ini aku pendam sendiri.

 

Hei, aku penasaran seperti apa pria kriteria yang kamu inginkan? Apakah aku sudah memenuhi kriteriamu? Jangan-jangan kita sama-sama menaruh standar yang terlalu tinggi sehingga Tuhan belum mengizinkan kita untuk bertemu? Atau bisa jadi karena aku yang masih belum memantaskan diri untuk bisa selaras denganmu? Oh Tuhan, tak bisakah Engkau memberi hamba sedikit saja “bocoran” untuk tahu tentang jodohku. Agar aku bisa lebih selektif dalam menerima kehadiran orang baru dalam perjalanan cintaku. Entah sudah berapa banyak orang yang silih berganti masuk dalam duniaku, datang dan pergi meninggalkan luka yang cukup membuatku merasa pilu di setiap hubunganku.

 

Usiaku kini bukanlah usia yang baru merasakan jatuh cinta, melainkan usia yang kata kebanyakan orang sudah masuk usia mapan untuk sebuah pernikahan. Tapi bukan itu yang mengganggu pikiranku, bagiku pernikahan tidak memiliki aturan resmi harus menikah di usia tertentu. Hanya saja, seringkali aku merasa kecil hati ketika tersadar dengan kondisiku yang masih belum punya apa-apa. Jangankan hidup berkecukupan untuk membangun rumah tangga, untuk memenuhi kebutuhan pribadipun aku masih kesulitan. Pernah aku berburuk sangka pada Tuhan, berpikir bahwa salah satu faktor aku belum menemukanmu dikarenakan aku belum mapan secara finansial. Namun fakta yang ada di kehidupan berkata tidak melulu jodoh dipertemukan ketika sudah mapan, banyak orang yang sudah menemukan jodohnya jauh dari kata mapan. Lalu, kapankah giliranku untuk bertemu denganmu dan membangun semuanya bersama-sama dari nol? Sejujurnya aku bukanlah tipe “single fighter” sebab aku mengenal betul dengan diriku, aku pria yang butuh dukungan darimu, butuh teman hidup untuk bertukar pikiran dikala aku sedang merasa bingung, butuh teguran dikala aku bersikap salah. Aku benar-benar membutuhkanmu saat ini. Orang yang dekat disekitarku saat ini tidak atau belum ada yang selaras denganku, entah aku yang terlalu selektif, entah aku yang tidak peka, entah aku yang tidak menginginkan dirinya menjadi pasanganku, atau sebaliknya. Dia yang tidak menginginkanku dan seterusnya, sehingga yang ada hanya rasa kecewa atau sakit hati.

 

Bukanlah waktu yang singkat dalam upayaku mencari dirimu, aku harus merasakan banyak hal selama proses pencarian jodohku. Aku yakin kamu pun merasakan hal yang sama denganku, dan aku harap kamu tidak lelah untuk terus mencariku. Kata orang, jodoh itu ketika kedua belah pihak sama-sama berusaha mencari serta berjuang untuk bisa menjadikan pasangannya sebagai teman hidup. Aku setuju dengan pernyataan itu, karena sudah berulang kali yang aku alami hanya bertepuk sebelah tangan, kalau bukan aku yang berusaha untuk menjadikan orang lain menjadi teman hidupku atau sebaliknya. Hingga akhirnya harus berpisah dan mengulanginya dari awal, seterusnya akan terulang seperti itu hingga kita dipertemukan.

 

Kau tahu, saat aku menulis ini aku memutuskan untuk belajar tidak berharap pada siapapun agar aku tidak lagi mengalami rasa sakit dan kecewa akibat rasa pesimis dan rasa minder yang sedang menggerogoti batin serta pikiranku. Aku hampir memutuskan untuk menutup hati dari siapapun, namun kuurungkan niat itu dan kuganti dengan mengambil sikap untuk beristirahat sejenak dari hal-hal yang menyangkut tentang perasaan. Setelah aku merasa cukup kuat untuk mencoba membangun hubungan dengan orang lain, aku harap kita bertemu. Sehingga aku dan kamu tidak perlu merasakan sakit dan kecewa seperti sebelum-sebelumnya. Semoga saat aku sedang menutup sementara pintu hatiku, kamu sedang tidak berada di dekatku. Karena aku takut ketika kamu mengetahui bahwa aku sedang tidak ingin menjalin hubungan untuk sementara waktu, kamu menjauh dan semakin sulit untuk bisa bersatu. Di sinilah letak dilemaku, apakah aku harus menutup pintu hatiku sampai aku siap membuka hati untuk waktu yang belum ditentukan, atau aku harus terus membuka hatiku untuk terus mencarimu walau aku harus terus merasakan sakit entah sampai kapan. Aku benar-benar tak tahu harus bagaimana, perasaan ini membuatku menjadi pria yang labil dan pesimis.

 

Untukmu yang kelak menjadi jodohku, semoga kita segera dipertemukan. Aku tak sabar ingin bercerita dan berbagi duniaku kepadamu, menghabiskan sisa waktu bersama untuk membangun sebuah istana. Istana mungil yang harus kucicil dari gajiku yang mungkin jumlahnya hanya secuil.

 

Tuhan, sampaikan tulisanku padanya. Pertemukanlah aku dengannya, jadilah saksi janji suci antara aku dengan dirinya. Terimakasih Tuhan, kutitipkan dia padamu hingga Engkau memberikan restu padaku.

Serang, 01 November 2018.
Pukul 03:21 WIB

2 Replies to “Untukmu yang Kelak Menjadi Jodohku”

  1. Sejujurnya aku bukanlah tipe “single fighter” sebab aku mengenal betul dengan diriku, aku pria yang butuh dukungan darimu, butuh teman hidup untuk bertukar pikiran dikala aku sedang merasa bingung, butuh teguran dikala aku bersikap salah. Aku benar-benar membutuhkanmu saat ini. Orang yang dekat disekitarku saat ini tidak atau belum ada yang selaras denganku, entah aku yang terlalu selektif, entah aku yang tidak peka, entah aku yang tidak menginginkan dirinya menjadi pasanganku, atau sebaliknya. Dia yang tidak menginginkanku dan seterusnya, sehingga yang ada hanya rasa kecewa atau sakit hati.

    Oh ya? Sungguh tidal mandiri Anda, menunggu adanya dukungan dari orang lain tanya untuk bisa “berdiri” ?

    1. Sebab saya tak mungkin bisa hidup sendiri, butuh pendamping. Single fighter yang dimaksud bukan soal tak mampu mencari kebutuhan pribadi (bekerja), melainkan dalam ketika sedang dalam keadaan gundah gulana, butuh seseorang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *