Aku dan seorang gadis di antara dilema cinta

Hari-hariku berjalan seperti biasa, tanpa ada hal istimewa seperti bersosial dan mencari pundi-pundi rupiah. Aku yang senang berinteraksi dengan orang-orang, baik di dunia nyata maupun di dunia maya, saat itu aku sedang dibuat asik oleh salah satu group yang memiliki anggota dengan hobi beragam. Walau kebanyakan menyukai hal-hal berbau Jepang seperti film anime, cosplay, dan gambar. Group tersebut isinya tidak melulu soal anime, cosplay, dan membahas hal-hal berbau Jepang. Namun banyak juga obrolan soal curhatan atau hanya spam semata. Di tempat itulah aku mengenal seorang gadis yang mahir dalam membuat gambar karakter seperti tokoh film anime Jepang, namun bedanya yaitu karakternya merupakan hasil imajinasi gadis tersebut atau karakter original buatannya.

Sebut saja nama gadis itu Uranus, ia gadis yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Indonesia jurusan Psikologi, aku ingat saat aku mengatakan bahwa aku menyukai hasil gambarnya namun tidak melirik atau naksir ke orangnya saat itu. Tidak ada pendekatan antara aku dengan dia, sebab aku tahu bahwa ia memiliki seorang kekasih yang berada satu group. Sampai pada suatu hari, aku mulai sedikit-demi-sedikit mulai intens berkomunikasi dengannya melalui personal chat. Kami berbicara banyak hal, mulai dari cerita keseharian sampai curhat perihal perasaan. Semua berjalan normal dan masih biasa saja, sampai aku merasa ada ketertarikan terhadap dirinya. Semakin hari komunikasi antara aku dan dia semakin intens, tidak hanya melalui personal chat, melainkan melalui free call dan video call dengannya. Bahkan aku sudah tidak segan untuk minta ditemani lewat telepon saat sedang siaran radio kala itu, saat dimana aku masih menjadi seorang penyiar radio di kotaku. Di dalam komunikasiku dengannya, tidak jarang ia menceritakan tentang hubungannya dengan kekasihnya. Aku merasa tidak cemburu, karena aku bisa membatasi diri sehingga aku bisa memberikan nasehat atau solusi setiap kali ia bercerita.

Waktu terus berlalu, aku tak sadar bahwa perasaanku padanya semakin berani untuk muncul ke permukaan. Aku tahu ini tidak benar, namun soal hati rasanya logika seperti tidak berarti saat aku sedang jatuh hati. Otakku dipenuhi dopamin, yang kurasa dan kupikirkan hanyalah dia. Seringkali aku mengecek smartphone hanya untuk memastikan apakah ada notifikasi dari dirinya atau tidak, senang betul rasanya ketika ada balasan pesan darinya. Dengan secepat kilat aku membalas pesan darinya, jikalau terlambat sedikit saja aku mengucapkan kalimat “maaf baru balas” semacam kalimat wajib dan mantra sihir agar lawan bicara memaklumi. Dalam sekali telepon atau video call pun setidaknya bisa menghabiskan waktu lebih dari dua jam, tidak jarang kami sampai tertidur lelap dengan kondisi masih dalam keadaan video call. Aku benar-benar dibuat jatuh hati padanya, walau aku tahu saat itu ia sedang sering berduka karena hubungan dengan kekasihnya sedang berada di ujung tanduk. Aku yang merasa bajingan, namun tak bisa menolak kebahagiaan saat bersamanya.

Aku ingat saat pertama kali menemuinya, menaiki bus selama dua jam, berlanjut ke halte transjakarta sekitar satu jam lamanya. Berhenti sejenak di sebuah stasiun Kota untuk segera berlabuh dipelukannya. Hampir saja saat itu aku tertinggal kereta, aku berlari mengejar hingga petugas memberi isyarat kereta akan segera berangkat. Beruntung aku masih sempat masuk sesaat sebelum pintu kereta tertutup, kulalui stasiun demi stasiun tak sabar hati ini untuk berjumpa. Namun tak juga grogi ini mereda padahal belum juga berjumpa dengannya, di sepanjang perjalanan kereta yang sedang aku tempuh. Rasa lelah karena berdiri terabaikan akibat grogi disertai khayalan-khayalan tentang dirinya dalam benakku. Tak lupa aku selalu memberinya kabar ketika sudah mendekati stasiun UI, hingga saat tiba sekitar pukul 13 di stasiun UI. Menunggumu di sebuah halte bikun (bis kuning), ditemani suara riuh toa petugas yang mengusir kendaraan parkir di depan halte. Aku tersenyum kecil, petugas itu amat lucu mengucapkan kalimat “Kepada kendaraan roda empat yang berada di depan halte, harap untuk tidak parkir di situ. Silahkan parkir di tempat parkir yang sudah disediakan” kurang lebih seperti itulah kalimat yang aku ingat. Aku tertawa kecil, tak peduli jika ada mahasiswa lain yang melihat tawa kecilku.

Segera kukabarkan Uranus, memotret suasana halte sambil bertanya arah mana yang harus aku tempuh untuk menemuinya. Aku yang diberi arahan untuk menaiki sebuah bus berwarna merah, namun tak jua aku temukan, semua bus terlihat kuning bagiku, tak kusangka bahwa yang ia maksud adalah sebuah kotak kecil berwarna merah di dalam bikun. Aku tertawa malu saat diberitahu, terlalu fokus padanya membuatku tak sadar akan hal kecil. Untuk beberapa saat aku diam menunggu bus berikutnya tiba, karena hati tak kuasa menahan lebih lama untuk menunggu. Kuputuskan untuk menghampirinya dengan berjalan kaki mengikuti GPS sesuai lokasi yang ia kirimkan. Dengan tergesa-gesa tanda tak sabar, aku berjalan seperti tanpa kenal lelah. Melewati fakultas hukum sambil terpesona begitu luasnya kampus ini, yang mana pertama kalinya aku berkunjung ke kampus UI.

Rupanya GPS diarahkan ke sebuah perpustakaan yang biasa mereka sebut perpusat, aku sempat menghentikan langkah, sebab melihat diriku yang sudah tak layak, basah oleh keringat bercampur wajah berminyak. Malu rasanya jika bertemu dengannya dalam keadaan seperti ini, segera aku mencari sebuah toilet yang ternyata mengarahkanku ke sebuah masjid, aku mengganti pakaian bersih dan tak lupa menggunakan parfum setelah wajah sudah bersih. Sesaat aku merasa khawatir, ku tengok langit yang mulai mendung ditutupi awan gelap. Aku bergegas menuju perpusat, menunggunya di halaman gedung berdinding kaca sambil duduk menghadap danau, memperhatikan orang-orang untuk sekedar membunuh waktu sambil memberikan kabar kepadanya melalui sebuah pesan singkat.

Tak sadar bahwa rintik air sudah berjatuhan dan semakin lebat. Hujan deras tak terkirakan, aku secepatnya berlari memasuki gedung perpusat. Aku merasa canggung di sana, sedikit cemas karena belum mendapat kabar darinya. Aku menunggu sambil duduk di lantai melihat pemandangan di luar, orang-orang  berlarian masuk ke dalam gedung untuk berteduh sambil berusaha menutup kepalanya dengan tas atau sekedar telapak tangan. Aku sedikit berharap, barangkali ia ikut masuk ke dalam gedung bersama orang-orang. Namun aku dibuat sadar oleh sebuah notifikasi darinya yang mengatakan bahwa ia pun sedang berteduh. Kami berdua menunggu di tempat yang berbeda namun tetap satu tujuan, berharap hujan segera reda agar bisa bertatap muka.

Entah sudah berapa lama kami menunggu hujan, saling berkirim pesan dibalik layar, tersenyum lebar mengabaikan hujan hingga riuh angin serta gemuruh derasnya hujan tak terdengar. Sesekali kali melihat situasi di sekelilingku, melihat orang-orang sedang beramah tamah atau hanya sekedar bercanda ringan dengan teman-teman mereka. Mungkin hanya satu atau dua orang barangkali yang bernasib sama sepertiku, menunggu sendirian dengan tangan yang menggenggam handphone. Hujan sudah menandakan mulai mereda, hanya saja tidak bertahan lama yang kemudian kembali deras. Sedikit kecewa, karena kesempatan kecil untuk membuat Uranus beranjak menemuiku menjadi tertahan akibat hujan yang kembali deras. Kuputuskan untuk beranjak ke pintu keluar gedung, aku tak bisa hanya berdiam diri menunggu yang akupun tak tahu harus menunggu berapa lama lagi duduk diam di tempat. Persis di depan pintu keluar, aku berdiri untuk melihat kanan kiri memastikan kondisinya sudah aman. Kuambil sebatang rokok dan korek dari dalam saku kemejaku untuk menunggu hujan reda, “siapa tau aja nanti beres sebatang, hujan berenti” celotehku dalam hati.

Hisapan demi hisapan rokok yang kunikmati membuatku berkhayal melihat ekspresi dia saat pertama melihatku, mengskenariokan kronologi seperti apa saat kami berjumpa. Apakah saat aku sedang merokok lalu tiba-tiba ia datang dan memberiku wajah cemberut, atau saat aku membaca history chat dengannya lalu dia datang dari belakang? “Ah, dramatis. Terlalu alay kalau kaya gitu kejadiannya” pikirku sambil tersenyum sendiri saat merokok. Lamunanku dibuat buyar oleh suara anak kecil yang berkata “makasih teh”, aku mencari sumber suara. Kutengok sebelah kanan, ternyata aku dikejutkan oleh sebuah wajah seorang pria berambut panjang berkumis agak lebat sedang melihat kearahku sambil tersenyum dengan asap rokok yang keluar dari sela-sela bibirnya saat tersenyum. Tanpa berkata sepatah katapun aku langsung membalas senyum pria tersebut dengan sangat canggung namun berusaha terlihat ramah.

Tak kuhiraukan pria tadi, aku segera mencari sumber suara yang baru saja kudengar. Ternyata suara tersebut berasal dari seorang bocah yang baru saja menerima sejumlah rupiah dari seorang mahasiswi setelah menggunakan jasa ojek payung milik bocah yang kutaksir berusia sekitar 12-13 tahun. Dengan kaos longgar dan basah kuyup, menawarkan jasa ojek payungnya kepada orang-orang yang berada di sekitar pintu keluar. Aku memperhatikan bocah tersebut yang dengan riang menawarkan payung sambil sedikit bercanda dengan teman-temannya, aku senang melihat mereka. Sekecil itu sudah pintar mencari peluang, aku kembali dibuat tersenyum oleh ekspresi salah satu bocah yang mendapatkan pelanggan baru untuk menggunakan jasa ojek payung. Tentu aku masih mengabaikan pria yang masih merokok di sebelahku. Terlintas dalam benakku untuk menyewa jasa ojek payung agar aku segera bertemu dengan Uranus, kumatikan rokokku, menginjaknya sebelum kumasukkan kembali ke dalam bungkus rokok. Belum selangkah kaki ini beranjak, aku teringat bahwa aku tidak tahu harus jalan lewat mana untuk bisa menemui Uranus. “Si bego” ucapku dalam hati, kuambil handphoneku untuk meminta lokasi ia berada. Tapi aku mengurungkan niatku mengirim pesan kepadanya, aku berfikir akan menjadi tidak elegan jika bertemu dengannya dalam keadaan basah akibat hujan. Akhirnya aku memutuskan untuk masuk kembali ke dalam gedung, sebab pria di sebelahku tak kunjung pergi.

Aku kembali duduk di lantai dalam gedung, hujan masih turun walau sudah tidak begitu deras. Kembali hati ini berdebar, harap-harap cemas sebab waktu terus berlalu dan akan semakin sedikit waktu yang bisa dimanfaatkan untuk berdua. Aku mengiriminya sebuah pesan untuk meminta lokasi ia berada, sempat ada larangan darinya jikalau aku tetap pergi dalam keadaan hujan yang masih belum reda. Seketika aku teringat bocah penjual jasa ojek payung, aku yakinkan ia bahwa hujan sudah reda dan aku menggunakan jasa ojek payung untuk menuju dirinya. Uranus memberikanku arahan untuk bisa menemuinya, di halte pondok cinalah tempat meeting point aku dan dia. Dengan sigap kusewa jasa si kecil riang, menemaniku sambil berbincang ringan menuju halte bus. Entah kenapa, aku jadi ikut bersemangat melihat bocah yang padahal sudah basah kuyup. Tapi masih berjalan berjingkrak menginjak sebuah kubangan kecil, mengingatkanku pada masa kecil.

Sesampainya di sebuah halte depan fakultas yang akupun lupa namanya, segera kubayar jasa ojek payung dan anak itupun menghilang dengan riang. Di halte tersebut rupanya aku tidak sendiri, tidak berapa lama. Datanglah seorang pria menggunakan motor dalam keadaan basah akibat hujan, kami saling menyapa dalam sebuah senyuman ringan. Kami berdua duduk di bangku panjang permanen, spontan aku membakar sebatang rokok sambil menunggu datangnya bus. Aku mengeluarkan sebotol kopi instan yang kubawa sambil menawarkan rokok dan kopi kepada pria tersebut untuk dinikmati bersama, dengan ramah ia mengucapkan “makasih mas” sambil mengambil sebatang rokok yang kutawarkan. Untuk menghangatkan suasana di cuaca yang cukup dingin saat senja masih bersembunyi di balik rintik hujan, aku bertanya beberapa pertanyaan ringan kepada pria asing tersebut. Rupanya pria tersebut seorang driver ojek online yang sedang menunggu seorang pelanggan, seketika kami langsung akrab di dalam obrolan singkat. Sebab aku banyak bertanya kepadanya mengenai poin atau apapun yang berkaitan dengan pekerjaannya hingga tak lama kemudian datanglah bus yang kutunggu. Aku berpamitan sambil kutinggalkan kopi dan beberapa batang rokok untuknya sebagai tanda terimakasih karena sudah bersikap ramah padaku. Segera kunaiki bus dengan tergesa karena hati ini sudah semakin tak bisa lagi lebih lama untuk menunggu.

Di dalam bus, aku melihat beberapa mahasiswa sedang duduk di kursi tengah bagian bus. Mereka asik dengan smartphonenya, aku duduk di bagian depan dan berkata kepada supir bus bahwa tujuanku untuk berhenti di halte pondok cina. Sang supir mengiyakan permintaanku dengan mengangguk tanpa berkata, seorang kondektur bus hanya berdiri dekat pintu dan hanya sekali saja melirik ke arahku. Mungkin mereka tahu, bahwa aku orang baru yang menyebutkan bahwa aku ingin berhenti di pondok cina. Sebab aku yakin, jika mahasiswa UI pastilah sudah hafal dengan rute tanpa perlu bertanya kepada supir maupun kondektur. Sepanjang perjalanan, aku sempat memberi kabar kepada Uranus bahwa aku sudah di dalam bus menuju halte pondok cina. Ia menjawab untuk menungguku di sana, sebab ia akan menjemputku di halte.

Tibalah aku di sebuah halte, supir memberhentikan laju bus serta kondektur yang membukakan pintu mempersilahkan aku untuk turun. “Terimakasih pak” ucapku kepada mereka, aku berdiri di halte dan langsung memberi kabar bahwa aku sudah sampai tujuan. Hari semakin senja, namun matahari masih bersembunyi di balik rintik hujan. “Nanti gue bilang apa ya pas ketemu?” pikirku untuk mencari kalimat yang pas saat pertama bertemu. Suasana halte sangat sepi, bahkan sangat jarang ada kendaraan yang lewat. Aku masih melamun dalam sepi sambil melihat sekitar halte berharap mendapat pencerahan untuk tahu kalimat apa yang akan kuucapkan saat bertemu nanti, kakiku bergetar naik turun saat duduk. Menandakan rasa grogi dan tak sabar untuk bertemu, berkali-kali aku bercermin menggunakan camera depan smartphoneku. Memastikan rambutku rapi serta penampilanku masih layak untuk bertemu dengannya. Aku masih menunggu Uranus, di bawah rintik hujan dengan suara angin dan sesekali suara laju kendaraan. Bagiku, semuanya terdengar seperti latar musik dalam sebuah film drama. Membayangkan wajah cantiknya saat pertama kali aku melihatnya, sedang asik-asiknya melamun. Aku terkejut karena handphoneku bergetar, rupanya ia menelepon bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju tempatku berada. Aku menjawab telepon dengan kalimat yang seolah aku biasa saja, walau pada kenyataannya diriku sedang tak biasa,

Tak lama kulihat seorang wanita dari kejauhan membawa payung, melangkah ragu. Belum nampak wajah siapa orang yang sedang berjalan tersebut, aku kembali menunggu sambil melihat layar handphoneku. Seketika aku menerima telepon darinya bahwa dirinya sudah berada dekat denganku, spontan aku menghampiri dirinya dengan langkah yang cepat namun berusaha terlihat tenang. Kini gadis yang membuatku jatuh hati, sudah ada di depan mataku. Penantianku tidak sia-sia untuk bertemu dengannya. Sedetik, kurasakan waktu seperti berhenti. Sorotan wajah berseri di depanku, aku seperti bermimpi, hampir saja aku tak percaya kini benar-benar terjadi, menemui dia pujaan hati.

Spontan tanganku mencubit pipinya dengan manja, mengatakan kepadanya “akhirnya ketemu juga” sambil tersenyum lebar dan ia pun demikian. Ingin sekali aku memeluknya dengan erat saat itu, tapi aku khawatir ada orang lain yang lihat dan khawatir dia merasa tidak nyaman. Aku tak mau merusak momen berhargaku jikalau kekhawatiranku terjadi. Aku dan dia berjalanan di bawah payung yang dia gunakan, aku memegangi payung sambil berbincang-bincang ringan menceritakan apapun yang ada di kepalaku saat itu. Rintik hujan sudah bukan lagi menjadi penghalang bagiku, sebab saat ini aku sudah berada di sisinya. Setelah berjalanan untuk menuju sebuah tempat yang berisi beberapa ruangan, aku dan dia duduk lesehan di koridor. Saat itu Uranus sedang berkumpul bersama teman-teman organisasi cinematography, aku tidak menemui teman-temannya sebab aku merasa kurang percaya diri. Sehingga aku dan Uranus hanya duduk di lantai, ia mengeluarkan laptop sambil mendesain kebutuhan untuk sebuah program kerja dari organisasinya.

Kami berdua terlibat banyak perbicangan, apapun bisa kami jadikan topik pembahasan. Selama berbincang, tak sedikitpun aku mengalihkan pandanganku dari wajahnya. Rasanya aku tak ingin melepas pandangku untuk terus melihat matanya, senyumnya, dan tawanya. Sesekali aku mengelus rambutnya, mencubit pipinya, dan aku amatlah manja saat itu. Aku seperti bukan diriku yang biasanya, kepribadianku yang nyeleneh dan cuek berubah menjadi lembut serta manja saat berada di sampingnya. Uranus bercerita banyak tentang kehidupannya sehari-hari, menceritakan tentang teman-temannya, sampai perihal hubungannya dengan pacarnya. Sebab aku ingin tahu semua tentangnya, aku tak mau kehilangan satu momenpun dari dirinya. Hingga aku memeluknya, memeluknya dengan erat mencium aroma tubuhnya yang pasti akan kurindukan setelah selesai bertemu dengannya. Aku melepaskan semua rasaku kepadanya melalui sebuah pelukan dan kecupan di keningnya. Aku benar-benar menyayanginya. Kami sempat terdiam beberapa saat dan saling menatap, kubelai pipinya dengan tangan kananku seakan berkata “aku tak mau kehilangan dirimu”.

Tak terasa senja sedikit demi sedikit berganti malam, ia mengajakku untuk pergi beribadah di sebuah musola tak jauh dari tempat kami berada. Kami beranjak menuju musola, berjalan berdua dan saat itu hujan sudah berhenti. Sepanjang jalan dia bercerita mengenai fungsi gedung yang kami lewati, aku tak ingat apa yang ia katakan. Aku hanya mengingat wajahnya, aku bertingkah seperti anak remaja yang baru merasakan jatuh hati. Sesampainya di musola, aku dan dia berwudhu untuk bersiap beribadah. Saat itu aku mengimaminya dalam shalat tiga rakaat. Rasa bangga, senang, dan penuh harap yang aku rasakan saat itu. Bangga karena aku mampu mengimami shalat, senang karena ini adalah momen yang jarang terjadi, dan penuh harap agar bisa disatukan dengan restu Tuhan menjadikan ia jodohku. Setelah selesai melakukan ibadah, kami berdua berdoa dalam hening. Mendoakan apapun yang diharapkan masing-masing pikiran dan perasaan kami kepada Sang Pencipta. Selepas berdoa, kami kembali bergegas menuju koridor gedung tempat kami menghabiskan waktu yang tersisa.

Kami berdua melanjutkan obrolan ringan, tertawa dan bercanda hingga dia merasa mengantuk dan bersandar padaku untuk beristirahat sejenak. Aku membelai rambutnya, mencium kepalanya untuk menyampaikan rasa sayangku padanya. Aku menunggu dalam diam, memiringkan kepalaku agar bisa bersandar di kepalanya. Entah berapa menit kami tenggelam di keheningan, ia terbangun dan kembali menggunakan laptopnya. Aku membelai rambutnya, kami masih terdiam sesaat. Lalu aku meminta Uranus untuk membalikkan badan membelakangiku, aku memintanya untuk tidak menoleh ke belakang. Aku membuka ranselku, mengambil sesuatu untuk diberikan kepadanya. Aku memberikannya saat ia masih membelakangiku dengan kedua tanganku yang menyelinap dari belakang. Dia merasa senang menerima sebuah buku gambar dan sebotol parfum yang brandnya biasa aku gunakan. Aku ingin dia terus menggambar, dan ketika dia merasa rindu padaku suatu hari. Uranus bisa menyemprotkan parfumku di boneka panda yang biasa ia peluk untuk menemaninya tidur. Aku ingin dia terus berkarya dan ingin membuat ia tetap merasa dekat  denganku.

Pelukan hangat tak terelakkan, aku sungguh sangat bahagia. Suasana menjadi lebih hangat kala itu, rasanya aku tak ingin pulang dan terus tetap di sampingnya. Namun waktu tak bisa menunggu, waktu terus berjalan yang membuat kami harus berpisah. Uranus merapikan barang bawaannya dan kami bergegas untuk menuju stasiun, seketika ada seorang pria teman satu organisasi dirinya yang ikut bergabung untuk berjalan bersama. Aku diperkenalkan kepada pria itu oleh Uranus, aku berbasa-basi dengan pria yang sebut saja bernama Aldi. Kami bertiga berjalan bersama sampai di persimpangan, Aldi lebih dulu berpamitan. Aku tak tahu jika dia pun menyimpan rasa kepada Uranus, sampai Uranus menceritakannya kepadaku. Tak apa, pria itu bukan sainganku. Sebab Uranus tidak membuka hati untuk siapapun kecuali kekasihnya saat itu.

Aku dan Uranus berjalan kaki sampai ke halte bus, dia tahu bahwa bus sudah tidak ada lagi yang lewat. Maka kami memutuskan untuk memesan taxi online, kami berdua menunggu di halte bus tempat aku menunggu Uranus. Untuk membunuh waktu, aku mengajak Uranus untuk berfoto bersama. Ada sedikit kecemasan yang kurasakan dari dalam dirinya kala itu, namun kuyakinkan dia bahwa tidak akan jadi masalah jika berfoto denganku. Sebab tidak akan aku publis agar kekasihnya tidak mengetahui hal ini.

Setelah berfoto beberapa kali, kami masih menunggu taxi datang. Tak lama taxipun datang, kami segera masuk ke dalam. Seorang pria setengah baya adalah sang supir taxi, dengan ramah malayani kami berdua. Sepanjang jalan menuju parkiran mobil yang aku lupa namanya namun tidak jauh dari stasiun untuk mengantarkan Uranus, ia sudah ditunggu oleh ayahnya di sana. Aku memegang tangannya sepanjang perjalanan, bersandar manja di bahunya. Sempat ada obrolan ringan di antara kami bertiga agar suasana menjadi cair. Genggamanku tak mau kulepas, ini adalah detik-detik menuju perpisahan. Beberapa kali aku mencium punggung tangannya yang kugenggam, aku benar-benar dibuai dalam perasaan cinta yang melupakanku dari segala kenyataan.

Sesampainya di tempat tujuan, Uranus berpamitan padaku. Tatapan yang enggan untuk berpisah menjadi sebuah bukti ketulusan bahwa kami berdua merasa sangat nyaman saat bersama. Uranus turun dan keluar dari taxi, melambaikan tangan kepadaku serta mengucapkan terimakasih kepada supir. Dia berjalan menuju parkiran tempat ayahnya menunggu di sana, namun sang supir taxi enggan beranjak. Aku bertanya kepadanya “ada apa pak?” tanyaku saat aku melihatnya masih menoleh ke arah Uranus. “Ini ngga apa-apa nih ninggalin dia sendirian?” Beliau bertanya dengan nada khawatir, “oh kirain ada apa, kita tunggu sebentar aja pak sampai dia ketemu bapaknya” jawabku kepada beliau. Setelah kami berdua sudah memastikan Uranus baik-baik saja, taxi kembali melaju dengan perasaan lega menuju stasiun.

Sesampainya di stasiun, aku memberikan ongkos sesuai tarif dan mengucapkan terimakasih kepada beliau atas pelayanannya yang ramah. Kini aku berdiri di depan stasiun, melihat jam tangan untuk menengok waktu. “Cukup” gumamku, kemudian aku membakar sebatang rokok serta memberi kabar bahwa aku sudah di stasiun. Selama di stasiun, tak hentinya aku tersenyum senang sambil menghisap rokok, membayangkan kembali selama bertemu dengannya. Hatiku penuh bunga kala itu, seakan hanya aku seorang yang merasa bahagia di stasiun UI.

Aku banyak berkhayal tentangnya, berkhayal bisa bertemu kembali dengannya, berkhayal bisa menjadi kekasihnya kelak. Hingga tak terasa rokok ini sudah habis, aku beranjak masuk ke dalam stasiun. Tidak seperti orang-orang lainnya yang memasang wajah datar tanpa ekspresi, aku berseri-seri berjalan di dalam stasiun menunggu commuter line tiba. Aku membaca kembali history chat aku dengan Uranus sambil membunuh waktu. Commuter yang ditunggu telah tiba, aku masuk ke dalam kereta. Berdiri sambil mengirimi kabar bahwa aku sudah berada di dalam kereta, aku tak butuh kursi untuk duduk. Sebab aku sedang asik sendiri dengan duniaku.

Stasiun demi stasiun terlewati dan tiba di stasiun Kota yaitu stasiun akhir, aku turun dan bergegas menuju pintu keluar. Aku berjalan cepat sesaat setelah melihat jam dan merasa khawatir takut bus yang menuju kotaku sudah tiada di terminal Kalideres, aku masih harus menaiki bus trasjakarta menuju terminal. Di dalam bus yang sudah padat, membuatku tidak mengeluh sama sekali. Mungkin efek bahagia yang masih kurasakan. Alunan lagu-lagu bertemakan cinta menemaniku sepanjang perjalanan. Hingga aku sampai di terminal Kalideres dan menuju pulang, di perjalanan aku menghabiskan waktu untuk istirahat setelah tenaga kugunakan untuk bertemu dengan Uranus.

Entah kapan ada kesempatan lagi untuk bertemu dengannya, namun aku berharap tidak terlalu lama untuk menahan rindu yang semakin hari semakin terasa. Aku tahu ini bukanlah hal yang benar secara logika, namun cinta bukan hanya logika yang bahkan mampu membuatku buta pada kenyataan. Kenyataan bahwa aku sudah mencintai wanita milik orang lain, walau aku dan dia sama-sama nyaman. Walau hubungan mereka sedang dilanda konflik, dan aku tahu bahwa aku tidaklah mungkin memilikinya. Paling tidak, aku berusaha untuk mengontrol diri serta perasaan. Oh Tuhan, mengapa Engkau memberiku kebahagiaan seperti ini. Kebahagiaan bersama seorang gadis di antara dilema cinta.

One Reply to “Aku dan seorang gadis di antara dilema cinta”

  1. U know, lana del rey said, ” when someone else’s happiness is your happiness. That is love.” Not need to say tht we sure want happiness for ourselves. when the happiness of another is necessary for ur happiness, u have love. But when ur happiness must come first and u abandon other’s feeling, love becomes twisted and sick. Anyway, nice story! Keep it up 😄

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *