Sangiang pulau cantik dari Selat Sunda

Gue mau berbagi pengalaman untuk pertama kalinya open trip ke pulau Sangiang yang berada di Selat Sunda, kebetulan temen gue seorang tour guide karena memang doi buka usaha open trip gitu. Nah gue berangkat subur njir, jam setengah enam. Which is bagi gue jam segitu tuh masih subuh banget! Oke, kami berangkat dari Serang ke Cilegon untuk nemuin peserta trip di sana. Kami sarapan dulu laaah sebelum cabut, nasi uduk pake gorengan kan enak tuh minum teh anget dan gratis pula wkwkwk

Sekitar jam 7an lah yah kami cabut, gue dan salah satu temen gue duluan ke dermaga di Anyer, sedangkan peserta menggunakan mobil ke sananya. Perjalanan dari Cilegon ke Anyer sekitar 30 menit, sesampainya di dermaga ya kami prepare sambil kapal disiapkan. Nah berangkatlah kami berlayar ke pulau Sangiang, di perjalanan laut itu gelombangnya lumayan tinggi dan gue dooong sampe jackpot alias muntah sama beberapa peserta trip lainnya wkwkwkwk sekitar hampir satu jam perjalanan laut, sampailah di bibir pulau dan kami berenti sejenak untuk snorkling! Yeeey dan semua orang berenang kecuali nahkoda dan abk yang standby di kapal. Berenang dan menyelam menikmati pemandangan terumbu karang beserta ikan-ikan yang bagus bagus di dalam air laut yang jernih. Hilang sudah rasa mabuk laut wkwkw

Beres senang-senang di air, kami semua naik ke kapal. Bersiap untuk masuk ke pulau, jadi masuk ke pulaunya tidak menggunakan kapal yang sama. Karena air laut yang dirasa sudah surut jadi kapal tidak bisa lebih masuk ke dalam, sehingga menggunakan perahu nelayan atau kapal yang lebih kecil untuk masuk ke sana. Perjalanan masuk ke pulau itu tidak cuma lurus doang lalu sampai,tapi melewati kaya arus sungai gitu di antara pohon-pohon bakau terbentang di sisi kiri dan kanan kapal. Cukup menarik perhatian mata ketika disuguhkan pemandangan yang biasanya cuma liat di youtube atau acara tv, sampailah kami di dermaga pulau yang berukuran kecil dari kayu. Begitu menepi, kami disuguhkan dengan plang biasa lah ya tulisan selamat datang gitu wkwkw tour guide dengan sigap menghampiri petugas untuk membayar tiket.

Kami semua masuk ke pulau dengan perasaan jetlag, senang, lapar wkwkwk para peserta bersantai dahulu di sebuah saung atau gazebo sambil menunggu menu makan siang. Gue dan kedua temen gue bergegas membawa peralatan snorkling dan mengurus hal remeh temeh seperti untuk makan siang, home stay dan sekedar basi-basi menyapa penduduk dan pemilik home stay. Gue yang masih oleng akibat muntah di kapal, buru-buru pesen teh manis dan indomie! Woooh, tiada kenikmatan selain indomie dan teh manis hangat wkwwk dan semua peserta makan siang bersama karena memang biaya yang mereka bayar sudah termasuk makan tiga kali (siang, malam, pagi), home stay, tour guide, dan kapal. Setelah semua peserta beres makan, langsung cuusss ngeeeeeng jalan kaki ke home stay.

Jadi gini, kita jeda dulu soal perjalanan tadi. Gue mau kasih gambaran atau jelasin bagaimana situasi pulau Sangiang di paragraf ini, biar ketika mungkin lo ke sana itu tidak kaget karena merasa di luar ekspektasi. Nah pulau Sangiang ini adalah pulau yang tidak ada jalan raya, tidak ada listrik dari pagi sampai sore, susah sinyal (sinyal 4G cuma ada di bibir pantai dan tebing yang ada di pinggir pantai), rumah penduduk banyak yang masih dari kayu (termasuk home stay tempat istirahat para pelancong), banyak kucing dan anjing liar tapi jinak semua, jumlah kepala keluarga dalam satu pulau hanya berjumlah 48, harga cemilan atau jajanan di sana standar alias tidak mahal karena hanya ada jajanan warung, penduduk yang ramah, dan suasana malam di sana yang tenang nan damai. Jadi kalau lo ke sana, saran gue sih bawa powerbank satu atau dua. Apalagi kalau lo suka update di instagram atau mau rekam video untuk instagram atau channel youtube lo.

Oke kita lanjut, semua peserta termasuk gue dan kedua temen gue yang sebagai tour leader rehat sejenak. Para peserta bersantai dengan caranya masing-masing, sedangkan gue dan kedua temen gue bersantai di atas rumah pohon untuk minum kopi, bercanda, atau sekedar bernyanyi bersama. Sekitar jam 15.30 WIB, kami semua beranjak tracking keliling pulau. Kami berjalan melewati banyak pohon bakau, masuk ke hutan untuk menuju spot pertama dari tracking yaitu Goa Kelelawar. Which is Goa tersebut merupakan sarang kelelawar lah yaaa, yakali sarang cabe-cabean ada di sana wkwkwkwk nah kami tidak bisa masuk ke dalam goa, sekalipun hanya untuk masuk ke bibir goa. Sebab, dibawah goa tersebut adalah aliran gelombang air laut yang cukup deras disertai ombak dan banyak bayi ikan hiu alias baby shark dudu dududu du *gausah nyanyi wei

So, akhirnya kami hanya bisa melihat dari jarak yang dekat di luar bibir goa untuk sekedar melihat, mendengar suara ombak dan kerumunan kelelawar, mencium aroma kelembapan goa, serta selfie-selfie syantik ala-ala selebgram. Dengan lihainya para peserta yang hobi di fotografi bergaya menggunakan cameranya untuk memotret goa tersebut, para wanita dengan teriakan histeris saat melihat penampakan bayi hiu di bibir goa like “AAAAAAAAKKK HIUUUUUU, ADA BABY SHARK!!!” dengan posisi kedua tangan mengepal gemas setinggi kedua pipi, sedangkan tour guide dengan eskpresi datar duduk di batu sambil menggoyangkan tongkat kayu tanda “apaan sih anjir, udah bosen gue liatnya” sedangkan gue berlagak sok keren mendekati bibir goa untuk melihat lebih dekat lalu memotret beberapa foto pake hp ala kadarnya yang hasilnya beda jauh dengan apa yang gue liat wkwkwk dasar hp murah.

Menit ke menit telah berlalu, tour guide mengintruksikan untuk berfoto bersama. Semua peserta berkumpul untuk mengabadikan momen walau tidak ada satupun peserta yang bakal ditag di instagram karena memang tidak diupload wkwkwkwkwk kasian yah. Berekspresi riang gembira di depan camera padahal mah b aja karena udah puas liat goa dan ikan hiu. Dipandu oleh tour guide yang mana doi adalah temen gue, kami semua beranjak ke puncak bukit pulau Sangiang. Berjalan sekitar 3 tahun lamanya mendaki gunung lewati lembah dari timur ke barat mencari kitab suci alias 10 menit jalan kaki, kami semua sampailah kepada saat yang berbahagia, dengan selamat, sentosa, adil, dan makmur *lah malah pembukaan UUD1945, serius jar *plak, oke kami sampai ke puncak bukit dan suguhkan pemandangan gils keren bat dah asli kek di google google itu loh, seketika pupil mata mendadak membesar tanda kekaguman pemandangan yang keren parah yang ngga bakal lo temuin di belakang rumah lo.  

Gimana? Keren kan? Iyalaaah keren, gausah sok bilang b aja kalau belum liat langsung, karena sensasi dan perasaan melihat pemandaan dari foto dengan liat langsung pasti beda. Semua orang antusias berswafoto atau foto bareng, yang tentu saja gue pun tidak melewatkan momen ini untuk selfie ala-ala candid biar keren. Padahal sih gue bingung aja mau berpose seperti apa HAHAHAHAHA tidak terkecuali dengan tour guide yang ikut berfoto, cumaaaaaa bedanya tour guide mah yang motoin peserta. Bukan selfie, karena udah biasa ke sana wkwkwk

Beres foto-foto, kami semua lanjut tracking menuruni bukit dengan rute yang berbeda. Berjalan melewati bebatuan dan dikelilingi hutan yang ramah lingkungan, sebab tidak ada hewan liar yang ditemukan. Jalan kaki sekitar 15 sampai 30 menit kalau gue ngga salah *kalau ngga salah berarti bener. Lalu menuju ke bukit cinta~ namanya alay loh yaaa seperti tidak ada nama yang lain saja, pemandangan bukit cinta itu biasa aja, iya b aja ngga wah atau berkesan. Bahkan gue merasa seperti dibohongin, sebab cuma liat tulisan di sebatang pohon bertuliskan ‘bukit cinta’ udah. Terus lanjut jalan sampai di bukit harapan, apaan coba wkwkwkwk kalau di bukit harapan ya agak mendingan lah yaaa, ada yang jualan minuman! Gila niat banget buka warung di sana, apa ngga pegel bawa barang dagangan ke atas bukit? Padahal cuma jualan khas warung seperti teh sisri, tea jus, dan segala macam sebangsa minuman gitu lah. Yang beda cuma menu kelapa muda, dih. Tetep b aja wkwkwkwk

Nah di bukit harapan ini, ada satu keistimewaan yaitu ada sinyal! Yeeeeey bisa update snapgram atau push rank pubg, tapi ya gitu, sinyal ilang-ilangan wkwkwkw kampret emang, gagal klimaks senangnya. Kami semua istirahat sejenak di bukit harapan karena cukup capek juga sih, sambil beberapa orang berfoto menghadap laut dan yang berpasangan ada yang mesra-mesraan, uwu. Sedangkan gue dan kedua temen gue ya sibuk nyari sinya berharap ada dewi fortuna menghampiri kami untuk memberikan sinyal 4G. Setelah beres berleha-leha, kami semua lanjut tracking untuk menuju pantai yang bernama ‘pantai sepanjang’ iya gitu doang namanya, pantai sepanjang. Entah sepanjang jalan kenangan atau sepanjang apa yang dimaksud pun gue tidak tahu. Begitu sampai di spot pantai, layaknya anak kecil yang menyambut bapaknya pulang kerja. Kami semua girang! Sebab pasirnya halus breeeee sehalus paha doi pas elo elus-elus *eh.

Pantainya bersih, airnya biru dan jernih. Lebih biru dari dari biru muda walau tidak setua biru tua, dihiasi beberapa hiasan sebagai pemanis pantai itu ada ayunan ala-ala pantai di Lombok, dan papan kotak bertemplate feed instagram namun tengahnya bolong berbentuk kotak untuk berswafoto. Para peserta trip langsung asik masing-masing, termasuk gue dan kedua temen gue yang asik sendiri main hp. Akhirnya ada sinyal 4G coy! Notif langsung gila-gilaan masuknya dan gue sempat kuwalahan, tapi temen gue yang satu biji ini sudah asik sendiri push rank pubg, dasar biadab! Wkwkwk sempat sempatnya push rank. Gue sebagai pecinta alam yang sejak kecil bersahabat dengan alam, langsung cari warung laaah pesen kopi item, sedikit kudapan, untuk bersantai sambil merokok menikmati pantai.

Sekitar sekian menit berada di pantai, kedua temen gue mengajak gue untuk ke atas tebing yang berada di sudut pantai. Kata mereka, sinyal di sana kencang. Atuh auto cuss ngeeeng berang-berang pake cincin, berangkaaaat cyiiiiiin~ dengan sigap membawa kopi, kudapan serta rokok untuk ikut dibawa ke atas tebing. Jalan kaki sekitar 3 menit, sampai ke atas tebing yang sangat mudah dipanjat, gue dan kedua temen gue besantai ria walau tanpa Ria anak mang Soleh. Gue sibuk buka sosmed, balas chating, nyeruput kopi dan ngudud. Temen gue ada yang masih sibuk push rank, yang satunya sibuk buka sosmed. Kami bertiga sibuk masing-masing di tepi tebing yang hanya sesekali ngobrol dan tertawa sampai senja.

 Senja kini tiba, semua orang bersiap untuk menangkap sunset kala itu, namun sayang seribu sayang. Awan mendung menutupi sunset wkwkwkwk kasiannya sih, dengan perasaan biasa saja, kami semua bersiap ke home stay untuk membersihkan badan dari keringat dan lengketnya wajah sehabis tracking sejauh 4km. Kami semua berjalan ke home stay selama 2 menit, dekat ya? Iyalah, kan home staynya dekat pantai. Kesel? Atau kzl?

Malam pun tiba, matahari berganti bulan lah yaaa, bukan onde-onde atau kue cucur. Di malam hari tidak ada agenda berarti alias acara bebas, semua peserta saling berbaur, berkenalan, bercanda, dan bersantai. Ada yang bersantai di teras home stay sambil menunggu menu makan malam, ada pula yang bersantai di warung kopi samping home stay untuk sekedar minum kopi sambil tertawa ringan melontarkan lelucon-lelucon ringan, namun cukup mampu membuat hangat suasana. Sebuah lampu berpijar yang bersumber dari aqi atau aki atau accumulator atau apalah tulisannya gue ngga paham, penjaga warung, peserta trip, dan gue bercanda selayaknya kami semua seperti warga asli sana. Sangat ramah, sangat santai, dan sangat menyenangkan. Malam itupun kami lewati dengan perasaan hati yang suka cita berbalut lelah dan bersiap terlelap tenggelam di bawah sinar rembulan.

Pagi menyambut, suara tawa dan canda sudah terdengar entah sejak kapan. Gue beranjak dari tempat gue tidur, melihat jam yang masih meunjukkan pukul enam pagi kurang sekian. Sedikit perenggangan agar badan terasa nyaman, keluar kamar untuk bersapa dan berbaur bersama. Rasanya belum semua nyawa ini terkumpul, namun temen gue sudah bersemangat menceritakan suatu kejadian yang dialami oleh peserta waktu semalam. Jadi diceritakan saat malam hari menjelang tengah malam, satu persatu peserta sudah terlelap, hanya segelintir yang masih tersadar. Hingga ada peserta yang mendengarkan suara tangis dari dalam home stay, awalnya terdengar samar. Namun setelah didengar dengan seksama, suara tangisan terdengar jelas walau ada suara musik yang diplay oleh salah satu temen gue sebelum tidur. You know what? Suara tangisan seorang wanita tersebut berasal dari kamar tempat gue dan kedua temen gue terlelap!

Astagaaaaaa, seketika peserta membubarkan diri satu persatu untuk meninggalkan teras home stay. Dan, tidak hanya itu. Sosok yang menangis tadi berubah menjadi suara memanggil nama! Sosok itu memanggil nama “Lia” berulang kali dengan suara yang halus seperti “Liaa… Liaa… Liaa..,” kaburlah semua peserta masuk ke dalam home stay untuk tidur. Saat pagi sudah heboh bercerita kejadian semalam, ketika ada yang menyebut nama Lia. Tanpa disangka, ada seorang wanita berkata “laaah gue Lia” terus semua orang terkejut dong, liat ke arah Lia semua! Tapi, Lia yang seorang peserta tidak mendengar suara tersebut saat malam hari. Dan konyolnya, ia yang awalnya tidur di dalam home stay. Sekitar jam 1 menjelang dini hari, Lia pindah tidur di teras home stay sendirian! Yang mana tidak lama setelah suara sosok itu hilang! Lia sih mengaku panas tidur di dalam, sehingga memilih untuk tidur di teras supaya adem. Alamak!

Setelah bercerita kejadian semalam, para peserta satu persatu mulai membubarkan diri dari teras. Ada yang menuju pantai, ada pula yang beranjak untuk mandi atau sekedar pesan kopi di warung. Acara pagi ini bebas, sambil menunggu menu sarapan tiba. Sekitar pukul 8, peserta dipersilahkan untuk sarapan sebelum meninggalkan pulau. Walau baru dua hari satu malam kami bersama, rasanya sudah seperti teman lama. Pukul 9 pagi kita bersiap meninggalkan pulau, menuju dermaga dan menaiki kapal kecil untuk menuju kapal yang berukuran lebih besar. Ada yang seru saat perjalanan pulang, gelombang mulai besar, kapal terombang ambing seperti menaiki wahana. Ada yang menikmati dengan bersorak, ada beberapa yang diam menahan mual hingga ada satu peserta yang muntah karena mabuk laut wkwwkkw gue? Gue udah duduk santai tanpa pusing dan mual karena gue tidak ngopi sebelum naik kapal dan sudah minum antimo HAHA!! Setiap kali ada gelombang besar, kami bersorak saat kapal dengan posisi miring kanan kiri dan tidak sedikit yang terkena cipratan air laut akibat kapal yang melewati gelombang laut. Satu jam berlalu, kita sampai di bibir pantai Anyer atau dermaga.

Selesai sudah keseruan kami, semua turun dari kapal dan bergegas menuju bus untuk pulang. Bahagia, senyum, canda, dan tawa masih melekat di diri kami selain rasa lelah. Hingga gue dan kedua temen gue berpisah dengan para peserta, mengucapkan terimakasih kepada mereka. Bersyukur gue menikmati semua momen yang ada, dan terimakasih banyak untuk lo yang sudah baca cerita gue. Salam dan peluk hangat dari gue. Sekian.

 

Catatan: Biar jelas, lo bisa liat videonya di channel youtube gue atau video di bawah. Sama aja sih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *